Abou Us

Ilmu pengetahuan teknologi Indonesia, belum dianggap sebagai salah satu negara terdepan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, ada banyak contoh perkembangan dan pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi yang menonjol yang disumbangkan oleh bangsa Indonesia. Meskipun merupakan negara berkembang, Indonesia adalah salah satu dari segelintir negara yang telah mengembangkan teknologi kedirgantaraan sendiri.

Saat ini, Kementerian Riset dan Ilmu pengetahuan teknologi Indonesia republik adalah badan resmi yang bertanggung jawab atas pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara ini. Lembaga pemerintah yang didedikasikan untuk ilmu pengetahuan dan penelitian di negara ini adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Ini terdiri dari 47 pusat penelitian di berbagai bidang mulai dari Ilmu pengetahuan teknologi Indonesia sosial hingga ilmu alam. Pada 2010, pemerintah Indonesia mengalokasikan Rp 1,9 triliun (sekitar US$ 205 juta) untuk penelitian dan pengembangan—kurang dari 1% dari total belanja negara.

Ilmu pengetahuan teknologi Indonesia

Sejarah Sains dan Teknologi di Indonesia

Hidup dalam budaya agraris dan maritim, masyarakat kepulauan Indonesia telah dikenal dalam beberapa Ilmu pengetahuan teknologi Indonesia tradisional. Khususnya di bidang pertanian dan kelautan. Di bidang pertanian misalnya, masyarakat di Indonesia dan banyak negara Asia Tenggara lainnya terkenal dengan budidaya padi dan teknik pembuatan terasering.

Ras Melayu (yang meliputi orang Jawa, Sulawesi, Filipina dan sub kelompok lain dari Indonesia Timur, minus orang dari wilayah Irian) dari Nusantara sudah menjadi pelaut ulung setidaknya sejak 1500 tahun sebelum masehi. Pada masa itu penyebaran kapur Barus sudah mencapai Mesir kuno.

Orang Melayu mengembangkan layar tanja beberapa ratus tahun sebelum masehi. Yang mempengaruhi orang-orang Arab untuk membuat layar lateen mereka dan orang Polinesia membuat layar capit kepiting mereka. Ini adalah penemuan signifikansi global, karena kemampuannya untuk berlayar melawan angin. Mereka juga dibuat layar jong (junk rig), dan pada abad ke-2, rig sampah telah diadopsi oleh orang Cina sebagai jenis layar pilihan mereka.

Orang Melayu juga mencapai Madagaskar pada awal milenium 1 Masehi dan menjajahnya. Pada abad ke-8 M, mereka sudah mencapai Ghana, kemungkinan menggunakan kapal cadik Borobudur dan perahu jong. Sebuah catatan Cina pada tahun 200 M, menggambarkan K’un-lun Po (berarti “kapal/perahu dari K’un-lun” – Baik Jawa atau Sumatra) mampu membawa 600-700 orang dan 260-1000 ton kargo. .

Sejarah Ilmu pengetahuan teknologi Indonesia di Sukuu Konjo

Suku Konjo, Ara dan Lemo-Lemo dari pulau Sulawesi di Indonesia bagian timur juga terkenal dengan Ilmu pengetahuan teknologi Indonesia pembuatan kapalnya. Mereka terkenal membuat kapal layar dari kayu yang disebut palari, menggunakan sistem layar (rigging) yang dikenal dengan pinisi. Adalah kesalahpahaman umum bahwa orang Bugis, Makassar, dan Bira membangun kapal-kapal ini, pada kenyataannya mereka hanya melayarkannya, bukan pembuatnya.

Orang Jawa dan Melayu, seperti etnis Austronesia lainnya, menggunakan sistem navigasi yang solid. Orientasi di laut dilakukan dengan menggunakan berbagai tanda alam yang berbeda. Dan dengan menggunakan teknik astronomi yang sangat khas yang disebut “navigasi jalur bintang”.

Pada dasarnya, para navigator menentukan haluan kapal ke pulau-pulau yang dikenali dengan menggunakan posisi terbit dan terbenamnya bintang-bintang tertentu di atas cakrawala. Pada zaman Majapahit, kompas dan magnet digunakan, dan kartografi (ilmu pemetaan).

Penggunaan peta yang penuh dengan garis membujur dan melintang, garis belah ketupat. Dan jalur rute langsung yang dilalui kapal dicatat oleh orang Eropa. Sampai-sampai Portugis menganggap peta Jawa sebagai peta terbaik di awal tahun 1500-an.

Dalam arsitektur, masyarakat asli Indonesia telah mengembangkan arsitektur vernakularnya sendiri. Beberapa contoh bangunan arsitektur Indonesia yang signifikan adalah Rumah Gadang dari Minangkabau, Tongkonan dari Toraja, dan omo sebua dari Nias. Omo Sebua terkenal dengan desainnya yang kokoh namun fleksibel yang memungkinkannya menahan gempa.

Kerajaan Jawa Medang Mataram

Pada abad ke-8, kerajaan Jawa Medang Mataram mengembangkan Ilmu pengetahuan teknologi Indonesia arsitektur tukang batu yang canggih pada bangunan candi (candi). Ini termasuk candi Borobudur yang megah, candi Prambanan, dan banyak candi lainnya.

Teknik arsitektur yang telah dikembangkan antara lain kenop. Lekukan dan pasak yang digunakan untuk membentuk sambungan antar batu dan mengikatnya tanpa mortar. Kemajuan arsitektur penting lainnya meliputi: atap, relung, dan gerbang melengkung yang dibangun dengan metode corbelling.

Pencarian ilmiah dan penelitian sistematis sesuai dengan metode ilmiah modern mulai berkembang dan berkembang di Indonesia pada masa Hindia Belanda, dimulai pada abad ke-19. Hindia Belanda telah menarik para intelektual, ilmuwan dan peneliti. Beberapa ilmuwan terkemuka yang melakukan sebagian besar penelitian penting mereka di kepulauan Hindia Timur adalah Teijsmann, Junghuhn, Eijkman, Dubois dan Wallace.

Banyak lembaga seni, budaya dan Ilmu pengetahuan teknologi Indonesia yang penting didirikan di Hindia Belanda. Misalnya, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, (Royal Batavian Society of Arts and Sciences). Pendahulu Museum Nasional Indonesia, didirikan pada tahun 1778 dengan tujuan untuk memajukan penelitian dan mempublikasikan temuan-temuan di bidang seni dan ilmu pengetahuan. Khususnya sejarah, arkeologi, etnografi dan fisika.

Kebun Raya Bogor dengan Herbarium Bogoriense dan Museum Zoologicum Bogoriense adalah pusat utama penelitian botani yang didirikan pada tahun 1817, dengan tujuan untuk mempelajari flora dan fauna nusantara.

Penemuan – penemuan di Indonesia

Manusia Jawa ditemukan oleh Eugène Dubois pada tahun 1891. Komodo pertama kali dideskripsikan oleh Peter Ouwens pada tahun 1912. Setelah kecelakaan pesawat terbang pada tahun 1911 dan rumor tentang dinosaurus hidup di Pulau Komodo pada tahun 1910. Vitamin B1 dan hubungannya dengan penyakit beri-beri ditemukan oleh Eijkman selama bekerja di Hindia.

Dengan meningkatnya minat dalam penelitian ilmiah, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Natuurwetenschappelijke Raad voor Nederlandsch-Indi (Dewan Ilmiah Hindia Belanda) pada tahun 1928. Organisasi ini beroperasi sebagai organisasi penelitian utama negara itu hingga pecahnya Perang Pasifik pada tahun 1942. Pada tahun 1948 lembaga ini berganti nama menjadi Organisatie voor Natuurwetenschappelijk Onderzoek (OPIPA, Organisasi Riset Ilmiah).